Archive for April, 2008

Al-Arifbillah Al-Qutb Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad

Ps: Artikel nie di petik dari forum asyraff.

Salam…

Pertama sekali, ana bukanlah orang yang alim dan arif…..

sebetulnya ana masih mentah dan banyak yang perlu dipelajari, sebagai sadah alawiyyin, ana berwajib untuk belajar, mengikuti dan ‘berusaha’ untuk membawa diri ini untuk mengikut perjalanan para salaf kami, beusaha menempuh jalan para leluhur kami, “gadaman ‘ala gadamin bi jiddin auza’i”

Dengan kelemahan yang ada pada ana, ana hanya ingin petik sedikit dari leluhur kami Al-Arifbillah Al-Qutb Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, dalam tulisannya di dalam Risalatul Mu’awanah menjelaskan sedikit ‘permasalahan’ enta. Beliau menulis:

“Perbaiki dan lurusakanlah aqidahmu dengan berpegang pada manhaj (jalan) al-firqah an-najiyah (golongan yang selamat) yang dalam islam dikenal dengan nama Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah orang yang berpegang teguh pada ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa shahbihi wa sallam dan para sahabatnya. Jika kamu teliti al-kitab (Al-Quran) dan As-Sunnah – yang berisi ilmu-ilmu keimanan – dengan pemahaman yang benar dan hati yang bersih (salim), serta kamu pelajari perjalanan hidup para salaf yang saleh dari kalangan sahabat dan tabi’in, maka kamu akan mengetahui secara yakin bahawa kebenaran ada pada golongan Al-Asy’ariyyah yang dinisbatkan kepada Syeikh Abil Hassan Al-Asy’ari rahimahullah. Beliau telah menyusun aqidah ahlil haq beserta dalil-dalilnya. Itulah aqidah yang diakui oleh para sahabat dan tabi’in. Itulah aqidah ahlil haq di setiap zaman dan tempat. Itulah aqidah seluruh kaum sufi, sebagaimana disebutkan oleh Abul Qasim al-Qusyairi pada bagian awal bukunya: Ar-Risalah.

Alhamdulillah, itulah aqidah kami dan saudara-saudara kami para sadah al-Husaini yang dikenal dengan sebutan Al Abi Alawi (Bani Alawi). Itulah juga aqidah salaf kami (leluhur kami), mulai dari zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa shahbihi wa sallam hingga saat ini.

Imam Al-Muhajir ilallah, Sayyidi Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Al-Imam Ja’afar Ash-Shadiq radhiyallahu ‘anhu, kakek para Sadah Husaini tersebut, ketika melihat munculnya berbagai bentuk bid’ah, gelora hawa nafsu dan pertentangan pendapat di Irak, maka beliau segera hijrah meninggalkan Irak. Beliau nafa’allahu ta’ala bih selalu berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain sampai akhirnya tiba di Hadramaut dan menetap di sana hingga akhir hayatnya. Allah memberkati keturunannya, sehingga sangat banyak dari mereka yang dikenal kerana ilmu, ibadah, keewalian dan makrifatnya. Berkat niat Al-Imam Al-Mu’taman ini dan hijrah beliau dari tempat-tempat yang penuh fitnah, maka tidak terjadi pada mereka (anak cucunya) apa yang terjadi pada sejumlah ahlil bait lainnya yang mengikuti berbagai bid’ah dan hawa nafsu yang menyesatkan. Semoga Allah membalas kebaikan beliau kepada kami dengan sebaik-baik balasan yang diberikan kepada seorang ayah atas jasanya terhadap putra-putranya. Semoga Allah meninggikan derajat beliau di surga bersama orang-orang tuanya yang mulia, dan mempertemukan kita dengan mereka dalam keadaaan selamat, tidak berubah (aqidah) dan tidak terfitnah. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dari semua yang berjiwa kasih. Di samping itu, Aqidah Maturidiyah dalam hal ini sama dengan Madzhab Asy’ariyah tersebut di atas.

Pertama, ana yakin dengan aqidah Asy’ariyah kerna Syeikh Abil Hassan Asy’ari dan Syeikh Abu Mansur Al-Maturidi hidup pada zaman tabi’in, yakni zaman terbaik selepas zaman Rasulillah dan sahabat, aqidah yang mereka susun, yakni asasnya SIFAT 20, ilmu aqidah yang bisa dan wajib dipegang oleh ahlussunnah wal jama’ah,

Dan paling mudahnya, ana mengikut pesanan, saranan dari leluhur kami, juga ahlulbayt yang alim lagi arif seorang wali qutb, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, di mana dalam syairnya,pada bait;

(untuk memperoleh semua kebaikan itu) maka perbaikilah keyakinanmu,
kerana sesungguhnya jika keyakinan sempurna,
tanpa keraguan yang ghaib akan tampak nyata,
dan jadikanlah Asy’ari sebagai aqidahmu,
kerana ia telaga yang jernih,
yang jauh dari penyimpangan dan kekufuran,

(Abdullah bin Alawi Al-Haddad, “Ad-Durrul Mandzum li Dzawil ‘Uqul wal Fuhum”)

Jadi, jika ada pendapat yang ‘lebih’ baik dari salah seorang dari ahlulbayt yang benar-benar mengikuti kakeknya Rasullullah saw, seperti Imamul Haddad….silakan…beri pendapat…kita tengok gimana…

Mungkin ana tidak “memperkenalkan” siapa Syeikh Abil Hassan Al-Asy’ari, dan Syeikh Abu Mansur Al-Maturidi, tapi leluhur kami dah “jelas” suruh kami ikut, kerana kami ahlilbayt jika mau berjaya, tempuhlah jalan para salafussoleh, para salaf kami yang terus bersambung kepada Rasulullah saw…

Al-Arifbillah Al-Qutb Abu Bakar B Muhammad Assegaf di pengajian beliau tidak pernah bosan menganjurkan mereka yang hadir, agar menempuh jalan itu gadaman ‘ala gadamin bi jiddin auza’i.

Kami ahlulbayt mengikut pesan dan saran leluhur kami, dan kami tidak sedikitpun ingin berpaling daripadanya, wallahua’lam…

Di hantar oleh:

[ Last edited by Muhd_Banahsan at 25-4-2008 05:40 AM ]

http://forum.asyraaf.net/viewthread.php?tid=1197&extra=&page=4

Advertisements

Comments (7) »